Sejak kecil saya selalu kagum
dengan langit dan benda-benda di angkasa. Bahkan saya pernah ingin menjadi
astronot dan bekerja di NASA(salah satu dari seribu cita-cita saya saat kecil
dulu). Saya selalu ingin tahu tentang rahasia langit. There’s something about sky that excites me.
Suatu hal yang wajar apabila kita
ingin mengetahui segala hal tentang
misteri dunia. Teori-teori mengenai alam semesta ini sudah banyak. Teori tentang
alam semesta sangatlah banyak, contohnya seperti teori big bang, teori
relativitas Einstein, teori black hole
Stephen Hawking, bahkan ada pula teori tentang Isra’ Mi’raj Rasulullah saw.
Saya pernah berbincang-bincang
dengan teman-teman pajak. Kala itu, kami sedang jalan-jalan malam di Pantai
Tanjung Pendam. Kami duduk di pinggir pantai. Deburan ombak, bentangan jutaan
bintang di langit, serta desiran angin yang menusuk tulang, menjadi pelengkap
kebersamaan kami saat itu. Entah bagaimana ceritanya, kami tiba-tiba saja
terlibat dalam perbincangan yang serius mengenai alam semesta dan fenomena
lainnya.
Kami membicarakan tentang teori
mimpi, yaitu tentang lucid dream
(mimpi sadar). Kebetulan saya pernah mengalami kejadian yang sesuai dengan
paparan Lucid tersebut. Mimpi
sadar (Inggris: Lucid dream)
adalah sebuah mimpi ketika seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi. Istilah ini dicetuskan
oleh psikiater dan penulis berkebangsaan Belanda, Frederik (Willem)
van Eeden (1860–1932). Ketika mimpi
sadar, si pemimpi mampu berpartisipasi secara aktif dan mengubah pengalaman
imajinasi dalam dunia mimpinya. Mimpi sadar dapat terlihat nyata dan jelas.
Saat itu saya lagi PKL di Dirjen
Perimbangan Keuangan, Jakarta Pusat. Saat istirahat siang, saya tidur di
mushola. Ruangannya kira-kira berukuran 3 x 3 m. Entah mulai kapan saya
tertidur, tiba-tiba saya mendapati diri saya lari kencang mengelilingi mushola
tersebut. Saya tidak bisa berhenti. Saat saya berlari, saya melihat saya
sendiri sedang tidur. “I watched myself
sleeping,” seperti yang dikutip dari film Insidious. Walaupun Insidious
adalah film tahun 2010, jujur saya belum melihatnya. Saya baru melihatnya pada
tahun 2013 akhir. Saat itu saya langsung berfikir, apakah saya memiliki
kemampuan astral project?
Astral Projection Travel adalah suatu keadaan di mana jiwa kita melakukan perjalanan
sendiri ke tempat lain, terpisah dari tubuh kita. Tapi ini bukan suatu mimpi,
karena jika ditilik, jiwa kita benar-benar berada di tempat lain tersebut, dan
bisa melakukan suatu aktivitas di sana.
Saya
masih tidak tahu, apakah saya mengalami lucid
dream atau astral projection,
karena saya tidak yakin yang saya alami itu hanya mimpi atau kenyataan terjadi.
Namun, perbincangan kami sampai pada titik dimana teman kami, Mas Enggar,
menceritakan suatu teori tentang astral.
“Bagaimana
kalau perjalanan Nabi Muhammad saw itu hanyalah astral projection?”
Jujur,
saya merinding dan mau nangis setelah mendengar teori tersebut. Siapa yang
berani mengutarakan teori tersebut? Kita boleh mengupas tuntas tentang pengetahuan
alam, tapi jangan sampai mempertanyakan kebenaran Allah swt.
Siapa
yang tidak kenal dengan Stephen Hawking? Dia adalah seorang ahli fisika
teoretis. Dalam bukunya yang berjudul The
Grand Design, dia menyebutkan bahwa alam semesta ini dibentuk oleh
sendirinya, bukan oleh Sang Pencipta yang selama ini kita yakini. Saya takut,
di kemudian hari, banyak orang yang menjadi seperti Stephen Hawking, pintar
namun tidak mengindahkan agama. Saya bukan tidak menyukai dia secara pribadi,
namun saya tidak menyukai teori-teorinya. Teori hanyalah pikiran manusia.
Manusia adalah mahluk yang terbatas akal dan pikirannya.
Dewasa
ini, kita disuguhkan oleh film sci-fi yang mengedepankan cerita mengenai
antariksa. Apabila kita perhatikan, imajinasi liar para screenwriter ini secara tidak sadar menanamkan pola pikir bahwa alien dan kehidupan di luar angkasa itu benar adanya. Bahkan peneliti di NASA selalu mencari kehidupan seperti bumi di planet lain. Mereka berfikir, karena ada jutaan galaksi di langit sana, kemungkinan adanya kehidupan menyerupai bumi sangat besar. Namun hingga saat ini, tanda-tanda kehidupan di luar bumi masih belum ditemukan.
![]() |
| Galaksi Andromeda |
![]() |
| M33 |
![]() |
| NGC-4414 |
Saya baru saja menonton film Interstellar. Film besutan Christopher
Nolan ini dibuat berdasarkan karya seorang fisikawan, Prof Kip Thorne. Film itu
menceritakan tentang sekelompok ilmuwan yang melakukan perjalanan ke luar
angkasa demi mencari planet yang baru karena bumi sudah tidak bisa ditinggali.
Bumi sudah hancur dikarenakan badai pasir. Badai pasir ini memang benar-benar
terjadi di Texas pada tahun 1936. Pantas saja film The Wizard of Oz
memperlihatkan tempat tinggal Dorothy yang gelap dan berdebu. Bahkan langitnya
pun kuning. Saya baru tahu kejadian ini benar-benar ada waktu dulu.
Pada
film Interstellar ini pula diceritakan tentang Teori Relativitas Waktu yang
dicanangkan oleh Einstein. Kelompok tersebut pergi ke wormhole yang telah ditempatkan dekat cincin Saturnus oleh
“mereka”. Mereka disini maksudnya adalah manusia yang telah hidup di dunia 5
dimensi. Mereka pula yang menempatkan pemeran utama dalam film ini, Cooper, ke
dalam black hole yang ternyata sebuah
ruang 3 dimensi di dalam ruang 5 dimensi yang bernama Tasseract. Teori, teori, dan teori. Sangat liar suatu teori itu
memang. Kita semua belum pernah ada yang masuk ke black hole, jadi ilmuwan-ilmuwan tersebut membuat teori seperti
itu.











