Minggu, 10 April 2016

River Tubing di Batu Mentas

Halo, selamat siang! Aku kembali lagi dengan cerita yang paling baru. Hari sabtu kemarin aku bersama teman-teman main ke Wisata Alam Batu Mentas. Kami berenam, aku, Iqbal, Mas Enggar, Eki, Yudhis, dan Pipit, main river tubing di sungai. Ini adalah pengalaman yang baru bagi aku. 

Awalnya itu KPPN mengadakan sosialisasi dan mengundang satker-satker. Maka dari itu kita bertemu Iqbal dan Irfan. Iqbal mengajak kami main ke Batu Mentas hari sabtu. “Main tubing yok ntar sabtu,” begitu ajakannya. Oke, kami langsung mengiyakan ajakannya itu. Secara kami sudah lama ga main bareng mereka karena mereka sangat sibuk dengan rutinitas SPT tahunan mereka.

Singkat cerita, berangkatlah kami ke tempat wisata tersebut. Sesampainya kami disana, kami disuruh membayar tiket masuk sebesar 10.000 rupiah. “Wah masih sama nih harganya kayak di internet,”  pikirku. Tapi ternyata itu hanya tiket masuk. Lain ceritanya apabila kami mau river tubing. Kami harus membayar 50.000 rupiah untuk menyewa ban. Sebelumnya kami sudah tahu, keamanan kami sangat minim. Kami hanya diberi ban untuk bergerak di arus sungai. Tidak ada pengaman yang lainnya. Tapi yaaa, bakal sebahaya apa sih sungai itu, pikirku saat itu.

Mulailah perjalanan kami. Kami harus hiking dulu selama kurang lebih 20 menit. Cukup sulit, mengingat aku hanya memakai sandal crocs kebanggaanku itu. Seharusnya kami semua memakai sepatu agak kaki kami aman dari duri dan licinnya tanah lereng bukit. Tapi hal itu tidak menghentikan kami. (Walaupun agak tersendat karena crocs ku sering lepas -.-“ )

Setelah mendaki bukit, sampailah kami di tempat tubing. Dengan ban masing-masing yang kami bawa sendiri, kami mulai mengarungi sungai.

Tepat di depan matamu
Ada sungai mengalir
Luas, sebuah sungai yang besar
Walaupun gelap dan dalam
Walaupun arusnya deras
Tidak perlu ketakutan
Walaupun kau terpisah
Ya, tepian pasti ada
Lebih percayalah pada dirimu~~

Sepertinya lagu JKT48 yang berjudul River ini pas banget dijadikan backsound petualangan kami kali ini. Awal perjalanan, sungainya tenang. Lalu pemandu kami mulai memperingati kami. Di depan sudah mulai deras arusnya. Satu persatu kami ikuti arus tersebut. Ternyata banyak korban yang jatuh bergelimpangan di level 1 ini. Yudhis bersalto di arus. Katanya kepalanya terkena batu. Tapi aku sendiri ga tau karena aku sendiri juga jatuh. Lebih menyedihkan lagi, jam tangannya hilang terseret arus. Duh, mahal padahal jam tangannya itu. Sayang sekali, sudah dicari-cari pun ga ketemu jam tangannya itu.

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan kami menantang arus. Tantangan kedua kami itu, kami diharuskan untuk melompat dari ketinggian kurang lebih 2 meter. Oke ini menakutkan. Situasinya mendukung lagi untuk melakukan lompatan. Hujan yang awalnya rintik-rintik berubah menjadi hujan deras. Such a perfect yet scary weather to go tubing! Di kolam renang saja aku ga pernah lompat, apalagi ini di sungai penuh dengan batu-batu coba. Eki mencoba untuk lompat pertama kali. Okeh, kelihatannya sih ga terlalu serem. Makanya aku memberanikan diri untuk lompat juga. Tiba-tiba aja aku merasa menjadi salah satu agent di Running Man. Aku jadi tahu bagaimana perasaan Yoo Jae Suk saat disuruh terjun di kolam renang. Semakin lama berada di ujung lompatan, perasaan takut bukannya berkurang malah bertambah. Sepertinya aku menghabiskan waktu 15 menit lebih berdiri disitu sebelum akhirnya aku memasrahkan diri pada takdir-Nya. Ternyata, asik banget lhoo lompat ke air itu! Jadi pengen nyoba lagi di kolam renang hahahha

Setelah aku, Pipit mencoba untuk lompat. Tapi lama banget ancang-ancangnya. Mungkin ada kali ya 30 menit bolak balik bertanya, “ada jalan lain untuk turun gaaa?” Dan berkali-kali kami pun menjawab, “Ayo turun ajaaaa.. Asik lhooo!”

Akhirnya Pipit pun terjun bersama Mas Enggar. Udah takut aja sih, ntar gimana kalau cuma salah satu yang lompat tapi satunya lagi tetep di atas. Untungnya pikiranku itu tidak terjadi. Dua-duanya selamat melompat. Yang terakhir itu Iqbal. Bah, dia juga lama kali mikirnya sebelum akhirnya lompat. Kata pemandunya saja, sepertinya kelompok kami ini adalah kelompok yang paling lama menyelesaikan tantangan lompatan ini hahaha.

Setelah tantangan lompatan tadi, kami melewati arus-arus sungai deras yang selanjutnya. Sampailah kami pada arus yang terakhir. Arus ini lebih deras daripada sebelumnya, walaupun begitu, mau tidak mau kami harus tetap melewatinya karena tidak ada jalan lain lagi untuk turun.

Aku adalah yang pertama melewati arus itu karena aku merasa semakin jago dalam menantang arus. Awalnya aku pikir berhasil tapi ternyata aku kehilangan keseimbangan. Sebenarnya aku bisa saja membenarkan posisi dudukku, tapi tiba-tiba Iqbal meluncur ke arahku. Aku ga bisa berbuat apa-apa lagi. Kami berdua pun terbawa arus. Dan sepertinya aku menarik kaki Iqbal makanya kami berdua terguling-guling di sungai. Salto di bawah sungai, minum air, lecet karena kerikil pun kami rasakan. Untungnya kebawa arus sungai, bukan arus samudra. Airnya pun air tawar, bukan air asin. Menderita banget kalau aku sampai minum air asin laut.

“Walaupun gelap dan dalam, walaupun arusnya deras~~~ “

Salto di bawah air itu begitulah rasanya. Gelap, matapun ga bisa terbuka. Hidung kemasukan air, mulut juga kemasukan lebih banyak air. Rasanya seperti ga bisa keluar dari air itu. Benar-benar pengalaman yang ga terlupakan.  ;)

Before (atas) dan after (bawah)

Sayang sekali kami ga ada yang punya kamera underwater jadi kami ga bisa mengabadikan momen melewati genangan sungai datar di tengah-tengah hutan amazon. Foto-foto di atas cuma momen sebelum dan setelah river tubing. Semoga aja lain kali kami kembali lagi kesini dengan membawa pasukan yang lebih banyak hehehe.

Pengalaman kami di Batu Mentas benar-benar menarik dan memiliki filosofi yang mendalam. Hal-hal yang terpintas dalam benakku kali ini adalah.. Bagaimana cara kita mengatasi ketakutan kita dalam menapaki hidup yang penuh dengan arus, apakah kita hanya akan terbawa arus atau bisa mempertahankan posisi kita. Apakah kita masih tetap tergelincir walaupun sudah bersusah payah memperbaiki keseimbangan dalam hidup. Apakah kita masih terus takut menghadapi lompatan masalah yang pasti akan ada dalam lika liku perjalanan hidup, padahal apabila telah dijalani, ternyata masalah itu bukan masalah yang besar.

Pertanyaan sekaligus pernyataan ini menyatakan bahwa hidup kita pasti penuh dengan tantangan dan masalah. Semuanya kembali lagi pada kita, apakah kita akan terus takut menghadapi masalah atau maju melawan masalah tersebut.

It was all depend on you, your mind, and your heart. They have to be one. So, believe in yourself that you can conquer the world, no matter who you are. Even the tiniest pebble could rock the lake.


Jadi, ini Hari Sabtuku, bagaimana dengan kalian? :)

Senin, 04 April 2016

Diklat Teknis Umum DJPB Part 2

Setengah hari kami dihabiskan dengan MFD (guling-guling, merayap, jalan jongkok, lari, etc). Tapi ya hanya itu, setengah hari saja kami melakukan MFD. Pikirku, kok begini doang ya DTU? Padahal saya kira kami akan diperlakukan lebih parah lagi daripada prajab. “Ini mah dtu bahagia,” sahut warga WDW. Yah karena kami sudah pernah menerima yang jauh lebih keras daripada ini (Wisma Pembina sama LPMP mah lewat, apalagi BDK Cimahi!)

Setelah istirahat siang, kami melakukan pemilihan Senat dan Wakil Senat. Saya sama sekali tidak ingin menjadi senat. Memiliki tugas sebagai senat itu tidak ada enaknya sama sekali. Apabila anak buahnya ada salah, senat juga terkena hukumannya. Entah itu disuruh guling, lari, lompat-lompat, apapun itu. Namun apa daya, sepertinya pelatih doyan sekali mengerjaiku. Saya disuruh berdiri di depan dan mencalonkan diri menjadi Wakil Senat. Semua siswi ditanya oleh Pelatih Soriton, apakah mereka siap dipimpin oleh saya. Semuanya berkata siap. Padahal saya sudah mengirimkan sinyal memohon mereka untuk tidak memilihku. Tapi mereka juga tidak bisa berkata tidak pada pelatih. Jadi yaa mereka juga terpaksa berkata iya. Namun sepertinya keberuntungan memihak kepadaku. Pemilihan ulang pun diadakan. Ada 3 calon wakil senat putri saat itu. Nesty, saya, dan satu lagi anak S1 yang saya lupa namanya. “Jangan pilih aku.. jangan.. please..” saya memohon pada mereka. Untungnya mereka mengabulkan permohonanku. Saya sama sekali tidak dipilih. AHA! Senangnya.. :D Tapi Pelatih Soriton ternyata tetap memilihku untuk menjadi Wanat 2. Malang nian nasibku.

Jadilah saya, Wakil Senat 2. Tapi ada untungnya sih, saya jadi lebih dikenal di angkatan perben kali ini. Hehehehe =3

Menjadi petugas piket sehari plus Wanat 2 sungguh di luar dugaan. Membagi-bagikan makanan kepada seluruh anak, memimpin dalam membaca doa sebelum makan, memimpin dalam apel, semua itu saya lakukan dari pagi, siang, sore, malam, hingga esok paginya kembali. Akhirnya saya bebas tugas dari piket.

Hari-hari kami ke depannya monoton. Apel pagi, MFD sekedarnya (tapi masih banyak yang muntah sih, bukan lulusan WDW sih hahaha), latihan berbaris, latihan masuk ruangan atasan (which we won’t ever do that in reality!), menyanyikan yel-yel, latihan mengibarkan bendera, pembacaan UUD 1945, tidur siang (yes, benar sekali, kami disuruh tidur siang di lapangan, di bawah rindangnya pohon, berasa anak TK), apel sore, makan malam, tidur, gantian jaga malam per jam nya, senam pagi, dan seterusnya. Begitulah rutinitas DTU kami.  Inilah yang kami sebut DTU bahagia.

Pengalaman kami saat DTU ada juga yang menarik sih. Kita ada jurit malam! Asik banget lho. Kita disuruh melintasi hutan yang di dalamnya tentu saja dipenuhi dengan jebakan-jebakan. Untung saja saya tidak diberi penglihatan berlebih oleh Allah swt untuk melihat “sesuatu”, karena saya yakin di hutan seperti itu pasti ada “sesuatu”. Kami diberi sandi pada awal perjalanan, kami tidak boleh memberitahu sandi tersebut pada siapapun, jadi saat pelatih-pelatih bertanya pada kami di setiap pos, kami pura-pura amnesia dan tidak tahu apapun.

Setan-setanan pun dibuat oleh pelatih. Ada kuntilanak (tiba-tiba jatuh tergantung dari pohon, saya tidak berani melihat), pocong-pocongan yang jatuh bergelimpungan di bukit di depan kami yang entah mengapa jadi pemandangan yang lucu sekali (bunyi gedebog pisang santer terdengar), pelatih yang tiba-tiba muncul mengagetkan kami (ini bikin kaget sih), hingga akhirnya kami melewati gubuk, dan sampailah pada pos yang terakhir. Sudah itu saja pengalaman jurit malam kami. Tidak terlalu menakutkan sih, tapi lumayan lah. Hahaha

Alhamdulillah kami lulus ujian jurit malam semalam. Ternyata banyak kelompok yang memberitahukan sandi tersebut kepada pelatih. Entah mengapa pula mereka dengan polosnya membeberkan sandi tersebut. Hukumannya, mereka yang atribut DTU nya tidak lengkap karena diambil paksa oleh pelatih semalam, harus merayap bolak balik, entah berapa kali. Mungkin saya tidak sanggup melakukannya. Untung saja kami tidak terkena hukuman tersebut.. hihihi

Sorenya, pegawai setditjen muncul saat apel sore. Jeleger!! Pegawai tersebut memberitahu kami bahwa hari Senin kami diharuskan berkumpul di Gadog kembali untuk pengarahan lebih lanjut. Perasaanya sama seperti yang saya tulis di postingan lalu. Padahal malamnya kami akan melaksanakan malam inagurasi. Sedikit sekali yang tersenyum malam itu. Kami berkumpul mengelilingi api unggun besar. Kami merenung bersama. Semua tahu sebentar lagi pengumuman penempatan. Kami dihibur dengan stand up comedy dari Raihan. Lalu berlanjut dengan nyanyian Christoffel.

Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..
Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..
Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..
Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..
Watampone~
Barabay~
Watampone, Muko-Muko, Wamena! ~~
Serui~~ wamena, wamena, wamena
Serui~~ wamena, wamena, wamena

Bagi kalian yang tidak mengerti arti lirik di atas, itu adalah nama-nama daerah tempat KPPN terpencil berada. Bagi temen-temen yang mendapat salah satu dari KPPN tersebut, niscaya akan selalu dikenang dalam hati (kepala menunduk haru).

Korps OJT KPPN Cirebon

Well, tibalah saat perpisahan dari DTU kami. Alhamdulillah banget ada salah satu anak yang membawa Go Pro, jadi kita bisa foto-foto bersama pasca DTU. Nice banget. DTU tuh tidak penting sebenarnya, tapi acara kumpul-kumpul seangkatannya itu yang kita ingat selamanya.

Sampai jumpa lagi pada pertemuan seangkatan berikutnya. Semoga saja tidak ada DTU lagi.. hahaha


Aamiin :3

Diklat Teknis Umum DJPB Part 1

Hari ini tanggal 4 April 2016, sudah 6 bulan lebih sejak kita melaksanakan Diklat Teknis Umum (DTU). Entah mengapa, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang pengalaman saya saat DTU.
Saya bersama teman-teman OJT KPPN Cirebon di kereta

di APTB ~ dari kiri ke kanan ~ Aji, Arip, Oji, Dicky, aku


DTU kami dimulai dari tanggal 13 September hingga 19 September 2015. Saya berangkat dari Cirebon ke Jakarta bersama rekan-rekan OJT KPPN Cirebon. Kami berenam berangkat tanggal 12 September sore karena kami harus registrasi pagi hari di Gadog, Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan kita tercinta. (Lain kali saya juga ingin bercerita tentang DTSD {Diklat Teknis Substansi Dasar} kami disini)

Pukul 06.00 pagi kami sudah siap-siap untuk berangkat menuju Terminal Senen. Kami menaiki bus APTB jurusan Bogor. Sebenernya bisa juga sih menggunakan KRL, tapi jarak antara stasiun bogor hingga Gadog jaraknya cukup jauh jadi kami memilih untuk menggunakan APTB saja dengan jarak yang lumayan dekat (hanya 1 kali angkot, harus 3 kali angkot apabila naik KRL) walaupun harganya lebih mahal (KRL 5 ribu, APTB 16 ribu).

Sampai di Gadog, kami harus menunggu antrian untuk bisa registrasi. Sebenarnya grup OJT Jawa Barat dijadwalkan registrasi pada pagi hari pukul 10.00 setelah grup OJT Jakarta, namun entah mengapa lama sekali mereka selesainya. Akhirnya kami baru bisa diberangkatkan dari Gadog menuju lokasi DTU kami di Ciampea, Bogor pukul 18.30 ba’da magrib. Kami naik truk TNI untuk sampai ke Ciampea. Sayang sekali kami tidak boleh membawa hp, jadi kami tidak bisa mengabadikan momen saat kami menaiki truk tni ini. Tapi memori saat itu, masih lekat tertanam dalam ingatanku. Truk itu tinggi banget. Saya sampai harus meminta bantuan pada Jacson untuk menarikku ke atas truk tersebut. Untungnya saya tidak jatuh haha. DTU memang diciptakan bukan untuk seseorang yang penakut hihihi

Singkat cerita, kira-kira pukul 7 malam kami baru sampai Ciampea. Ternyata benar kata Arip, sebaiknya jangan pake jeans ke Ciampea ini, karena dari tempat kita di drop oleh truk tni, jarak menuju perkemahannya cukup jauh. Dan kami mau tidak mau harus membawa sendiri barang-barang kami. Saya berjalan sendiri ke tempat kemah tersebut. Di tengah perjalanan, namaku dipanggil oleh pelatih.

“Eh amel, ketemu lagi kita!”

Deg, jantungku mau copot saja mendengar namaku disebut. Suaranya itu mirip sekali dengan pelatih yang tidak saya sukai saat prajab (tidak ada yang menyenangkan saat prajab, jadi saya tidak akan menceritakannya L). Saya tidak menggubris sapaan tersebut, selain muka pelatih tersebut tidak terlihat karena saat itu gelap sekali dan hanya pelatih yang membawa senter untuk menyoroti muka kami masing-masing, saya sebisa mungkin menghindari pelatih tersebut. Saya sudah membayangkan saja, nasib saya seminggu ke depan pasti tidak menyenangkan L

Kami dibagi menjadi 13 tenda. Saya berada di tenda 11. Saya fikir, kami akan tidur di tanah seperti saat camping SMP dan SMA, namun ternyata ada velbed (kasur tentara). Untung saja dulu saya tidak jadi membeli sleeping bag, tidak berguna untuk dipakai disini.

Setelah kami semua menaruh tas dan barang-barang kami, kami berkumpul di lapangan besar. Saya mengobrol seperti biasa bersama teman-teman kami. Tiba-tiba saya dibentak dari belakang, “Eh amel! Jangan berisik!” Sontak saya langsung menjawab, “Siap pelatih!” Teman-teman saya juga bingung, mengapa saya sudah dikenal pelatih. Yah, itu semua bermula saat prajab. Kami berdelapan, Bobby, Ale, Dicky, Ario, Adit, Hafidz, Avi, dan saya, Prajab Wisma Duta Wiyata (WDW) Angkatan 5 Instansi DJPB, selalu terkena semprotan oleh pelatih saat prajab. Bobby dan Dicky disuruh membawa gabus besar berbentuk hp karena mereka ketahuan pelatih telponan saat di kamar, Ale disuruh memakai topi dari semangka karena saat ditanya suka makan buah apa dia jawabnya semangka, Adit yang terlihat lucu di hadapan pelatih jadi selalu digodain, Hafidz yang didandani seperti banci jalanan karena mengatakan tidak sanggup lagi melakukan posisi push up dengan satu tangan dan satu kaki diangkat, Avi yang disuruh jalan mundur karena mengeluarkan unek-unek saat kelasnya disuruh jalan mundur, dan Ario. Hmm dia mah cuma dijitak saja oleh pelatih, bukan masalah besar. Dan aku yang terakhir. Yang paling parah diantara semuanya.

Awal mulanya itu karena sepatu saya disembunyikan oleh salah satu pelatih. Lupa namanya siapa (lebih tepatnya tidak mau diingat-ingat lagi). Saya marah sama pelatih tersebut. Sontak saya menangis. Mungkin mental saya kurang kuat dan juga karena banyak hal-hal yang kurang bagus untuk dibicarakan disini. They did something to me that I will never forgive.

Wow, mengapa jadi membicarakan prajab yak.. hmmm.. Okeh, kembali lagi pada DTU. Pada pagi harinya kami disuruh bangun pukul 4 pagi untuk melakukan senam pagi. Benar-benar tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan. Mata belum terbuka dengan sempurna, kami dipaksa menggerakan badan. Loncat-loncat ayo semangat 1 hingga 10 (kalau sudah pernah prajab pasti tahu gerakan ini bagaimana).

Setelah itu kami solat subuh dan pukul 6 pagi kami berkumpul lagi di lapangan untuk melaksanakan makan pagi. Petugas piket saat itu adalah Adit. Pasti pelatih Soriton yang memilih. Secara, prajab angkatan 5 kami baru saja selesai. Seperti masih fresh dalam ingatan pelatih-pelatih siapa saja kami.

Tiba-tiba nama saya dipanggil oleh pelatih Soriton. DUH! Dengan langkah gontai, saya berjalan ke depan lapangan. Saya ditanya oleh pelatih, apa yang berbeda dari Adit. Saya berfikir, apa yak. Saya tidak menemukan perbedaan Adit. Lalu pelatih memanggil Ale untuk maju ke depan. (Tuh kan! Angkatan 5 lagi!) Ale ditanya dengan pertanyaan yang sama. Tapi dia juga tidak bisa menebak apa perbedaannya. Akhirnya kepala kami berdua kena jitakannya pelatih Soriton. (Dosa apa hambamu ini Ya Allah, baru saja semalam disini sudah dibeginiin…) Akhirnya pelatih memberi tahu bahwa Adit sudah tidak berkumis lagi saat ini. OH EM JI! Mana perhatiin kan!


Singkat cerita insiden pagi itu pun berlalu. Kami bersiap-siap ke lapangan besar yang lain untuk melewati hari-hari DTU. Pagi hari itu dilaksanakan apel pagi. Di setiap apel pagi, dilaksanakan acara pertukaran posisi petugas piket. Tiba-tiba Adit memanggil nama saya! Mau nangis rasanya. Sempat froze sebentar, tapi kemudian saya langsung berlari menuju Adit. “Oh Tuhan mengapa harus aku?!” Saya akhirnya sampai di depan Adit. Adit meringis hampir tertawa melihat saya sedih, campur bingung, pokoknya campur aduk! Mungkin karena dia juga senang bebannya sebagai piket sudah terangkat. Yah sudahlah, nasib juga yang menghantarkanku pada tugas ini. Dibentak-bentak, dimarahi, dan dicaci, semua hal itu sudah kuperkirakan akan terjadi sebentar lagi. Ah, memang sudah takdir.

berlanjut ke part 2 ya.. hihihi