Setengah
hari kami dihabiskan dengan MFD (guling-guling, merayap, jalan jongkok, lari,
etc). Tapi ya hanya itu, setengah hari saja kami melakukan MFD. Pikirku, kok
begini doang ya DTU? Padahal saya kira kami akan diperlakukan lebih parah lagi
daripada prajab. “Ini mah dtu bahagia,” sahut warga WDW. Yah karena kami sudah
pernah menerima yang jauh lebih keras daripada ini (Wisma Pembina sama LPMP mah
lewat, apalagi BDK Cimahi!)
Setelah
istirahat siang, kami melakukan pemilihan Senat dan Wakil Senat. Saya sama
sekali tidak ingin menjadi senat. Memiliki tugas sebagai senat itu tidak ada
enaknya sama sekali. Apabila anak buahnya ada salah, senat juga terkena
hukumannya. Entah itu disuruh guling, lari, lompat-lompat, apapun itu. Namun
apa daya, sepertinya pelatih doyan sekali mengerjaiku. Saya disuruh berdiri di
depan dan mencalonkan diri menjadi Wakil Senat. Semua siswi ditanya oleh
Pelatih Soriton, apakah mereka siap dipimpin oleh saya. Semuanya berkata siap. Padahal
saya sudah mengirimkan sinyal memohon mereka untuk tidak memilihku. Tapi mereka
juga tidak bisa berkata tidak pada pelatih. Jadi yaa mereka juga terpaksa
berkata iya. Namun sepertinya keberuntungan memihak kepadaku. Pemilihan ulang
pun diadakan. Ada 3 calon wakil senat putri saat itu. Nesty, saya, dan satu
lagi anak S1 yang saya lupa namanya. “Jangan
pilih aku.. jangan.. please..” saya memohon pada mereka. Untungnya mereka
mengabulkan permohonanku. Saya sama sekali tidak dipilih. AHA! Senangnya.. :D
Tapi Pelatih Soriton ternyata tetap memilihku untuk menjadi Wanat 2. Malang
nian nasibku.
Jadilah
saya, Wakil Senat 2. Tapi ada untungnya sih, saya jadi lebih dikenal di angkatan
perben kali ini. Hehehehe =3
Menjadi
petugas piket sehari plus Wanat 2 sungguh di luar dugaan. Membagi-bagikan
makanan kepada seluruh anak, memimpin dalam membaca doa sebelum makan, memimpin
dalam apel, semua itu saya lakukan dari pagi, siang, sore, malam, hingga esok
paginya kembali. Akhirnya saya bebas tugas dari piket.
Hari-hari
kami ke depannya monoton. Apel pagi, MFD sekedarnya (tapi masih banyak
yang muntah sih, bukan lulusan WDW sih hahaha), latihan berbaris, latihan masuk
ruangan atasan (which we won’t ever do
that in reality!), menyanyikan yel-yel, latihan mengibarkan bendera,
pembacaan UUD 1945, tidur siang (yes, benar sekali, kami disuruh tidur siang di
lapangan, di bawah rindangnya pohon, berasa anak TK), apel sore, makan malam,
tidur, gantian jaga malam per jam nya, senam pagi, dan seterusnya. Begitulah rutinitas
DTU kami. Inilah yang kami sebut DTU
bahagia.
Pengalaman
kami saat DTU ada juga yang menarik sih. Kita ada jurit malam! Asik banget lho.
Kita disuruh melintasi hutan yang di dalamnya tentu saja dipenuhi dengan
jebakan-jebakan. Untung saja saya tidak diberi penglihatan berlebih oleh Allah
swt untuk melihat “sesuatu”, karena saya yakin di hutan seperti itu pasti ada “sesuatu”.
Kami diberi sandi pada awal perjalanan, kami tidak boleh memberitahu sandi
tersebut pada siapapun, jadi saat pelatih-pelatih bertanya pada kami di setiap
pos, kami pura-pura amnesia dan tidak tahu apapun.
Setan-setanan
pun dibuat oleh pelatih. Ada kuntilanak (tiba-tiba jatuh tergantung dari pohon,
saya tidak berani melihat), pocong-pocongan yang jatuh bergelimpungan di bukit
di depan kami yang entah mengapa jadi pemandangan yang lucu sekali (bunyi
gedebog pisang santer terdengar), pelatih yang tiba-tiba muncul mengagetkan
kami (ini bikin kaget sih), hingga akhirnya kami melewati gubuk, dan sampailah
pada pos yang terakhir. Sudah itu saja pengalaman jurit malam kami. Tidak
terlalu menakutkan sih, tapi lumayan lah. Hahaha
Alhamdulillah
kami lulus ujian jurit malam semalam. Ternyata banyak kelompok yang
memberitahukan sandi tersebut kepada pelatih. Entah mengapa pula mereka dengan
polosnya membeberkan sandi tersebut. Hukumannya, mereka yang atribut DTU nya
tidak lengkap karena diambil paksa oleh pelatih semalam, harus merayap bolak
balik, entah berapa kali. Mungkin saya tidak sanggup melakukannya. Untung saja
kami tidak terkena hukuman tersebut.. hihihi
Sorenya,
pegawai setditjen muncul saat apel sore. Jeleger!! Pegawai tersebut memberitahu
kami bahwa hari Senin kami diharuskan berkumpul di Gadog kembali untuk
pengarahan lebih lanjut. Perasaanya sama seperti yang saya tulis di postingan
lalu. Padahal malamnya kami akan melaksanakan malam inagurasi. Sedikit sekali
yang tersenyum malam itu. Kami berkumpul mengelilingi api unggun besar. Kami merenung
bersama. Semua tahu sebentar lagi pengumuman penempatan. Kami dihibur dengan
stand up comedy dari Raihan. Lalu berlanjut dengan nyanyian Christoffel.
Tahuna,
Makale, Tobelo, Atambua..
Tahuna, Makale, Tobelo,
Atambua..
Tahuna,
Makale, Tobelo, Atambua..
Tahuna, Makale, Tobelo,
Atambua..
Watampone~
Barabay~
Watampone,
Muko-Muko, Wamena! ~~
Serui~~
wamena, wamena, wamena
Serui~~ wamena, wamena, wamena
Bagi
kalian yang tidak mengerti arti lirik di atas, itu adalah nama-nama daerah
tempat KPPN terpencil berada. Bagi temen-temen yang mendapat salah satu dari
KPPN tersebut, niscaya akan selalu dikenang dalam hati (kepala menunduk haru).
![]() |
| Korps OJT KPPN Cirebon |
Well,
tibalah saat perpisahan dari DTU kami. Alhamdulillah banget ada salah satu anak
yang membawa Go Pro, jadi kita bisa foto-foto bersama pasca DTU. Nice banget. DTU tuh tidak penting
sebenarnya, tapi acara kumpul-kumpul seangkatannya itu yang kita ingat
selamanya.
Sampai
jumpa lagi pada pertemuan seangkatan berikutnya. Semoga saja tidak ada DTU
lagi.. hahaha
Aamiin
:3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar