2 Mei 2011
Seperti judul lagu, aku terjatuh lagi. Aku malu pada
dunia. Aku malu pada diriku sendiri. Mengapa aku selalu saja menjadi yang
paling bodoh? Tidak cakap dalam segala hal. Aku sedih. Semua hal ini terlalu
berat bagiku.
Ingin aku menjadi seperti kau. Yang bisa melakukan apapun
dengan sempurna. Aku iri akan keberhasilanmu. Aku juga ingin meraih kesuksesan
sepertimu. Tidak bisakah kalian memberitahukan caranya padaku? Aku sudah bosan
menjadi yang terbodoh. Aku ingin bangkit dari keterpurukanku. Bisakah kalian
memberitahu rahasia kalian?
Hmm, masih ingat aku akan hari-hari itu. Hari dimana aku
merasa menjadi yang terpintar. Serasa indah semua hal yang ada di depanku.
Seakan-akan semua yang aku inginkan tersedia di depan mataku. Aku rindu
masa-masa itu. Aku ingin kembali ke masa lalu. Dimana semua hal itu terasa
mudah. Tidak banyak pikiran. Ya, aku sangat merindukannya.
Tapi walaupun begitu, ada kenyataan yang harus kuhadapi.
Tidak bisa aku terus tinggal dalam khayalan. Tidak bisa aku tetap tinggal di
alam mimpi. Walaupun aku bangun dengan tamparan ini, aku terima. Toh, inilah
hasil perolehanku selama ini. Aku tidak boleh putus asa. Aku cukup bangga akan
hasil kerjaku. Haruslah aku menoleh ke belakang. Dimana sebagian yang aku
peroleh hanya merupakan hasil kerja sama. Bukan hasil keringatku sendiri. Aku
harus bangga akan diriku sendiri.
Berjalan di jalan ini merupakan pilihan hidupku. Meskipun
aku menjadi yang terbelakang, aku tidak boleh terus terpuruk. Aku harus bangun
dengan kekuatanku sendiri. Tidak perlu aku dikasihani oleh kau. Aku akan terus
maju walau banyak juga yang menertawakanku. Aku terima kalau kau ingin
menertawai kebodohanku. Toh, aku memang bodoh. Aku itu tidak sepintar kau. Tapi
aku masih memiliki hati. Aku akan terus menjaga hatiku. Karena hatiku adalah
sesuatu yang sangat berharga. Jauh lebih berharga daripada nilai-nilai yang
diukir di atas kertas. Hidup itu tidak hanya berdasarkan nilai semata. Aku tahu
itu.
Terima kasih karena kalian telah membohongiku. Terima
kasih karena kalian sudah membuatku merasa jatuh. Aku akan menerimanya dengan
hati yang lapang. Dan aku juga berjanji, aku tidak akan menangis lagi karena
hal ini. Sudah cukup air mata yang jatuh dari mataku karena hal yang kau
perbuat. Aku akan terus melangkah dengan tegap. Tidak perduli dengan cercaan
kalian. Aku hanya akan mendengarnya sekali sebagai tamparan yang kuat. Tidak
akan aku masukkan ke dalam hati.
Terima kasih, kuucapkan juga, bagi kalian yang telah
memperhatikan kesulitanku, dan membantuku dalam segala hal. Aku sangat berterima
kasih pada kalian. Kalian sahabatku. Aku sayang kalian. Aku tidak akan pernah
melupakan kebaikan kalian dalam hidupku. Aku merasa bersyukur karena telah
engenal kalian. Aku tidak tahu apa jadinya aku kalau aku tidak bertemu dengan
kalian. Mungkin aku akan terus terperosok dalam jurang yang terdalam. Terima
kasih, terima kasih karena kalian sudah jujur kepadaku. Terima kasih karena
kalian sudah banyak membantuku bila aku merasa jatuh. Kalian memang hebat. Aku
salut pada kebaikan hati kalian. Apabila ada medali yang bisa aku berikan, akan
aku persembahkan medali dari berlian yang sangat mahal sekalipun. Aku sayang
kalian, sahabatku. Aku juga ingin jadi seperti kalian. Terima kasih, aku
mengucapkan terima kasih yang sangat dalam. Aku bangga bertemu kalian. Semoga
kalian juga merasakan hal yang sama terhadapku. Aku sayang kalian, wahai
sahabatku.
@KamarKosanAl-Karim
"Kala itu ujian STAN menjadi saat-saat menggalaukan di seantero jagat"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar