Assalammu’alaikum,
Selamat siang pak dosen. Di siang hari yang panas ini, biarkanlah saya
mencurahkan beberapa patah kata dalam surat cinta ini.
Saat Bapak meminta kami semua untuk menulis surat cinta, saya langsung
berfikir, surat cinta seperti apa yang Bapak maksud. Ternyata surat cinta yang
bapak maksud adalah tentang curahan kami mengenai apa yang telah terjadi, yang
sedang terjadi, dan yang akan terjadi pada diri kami. Nah, maka dari itu, saya
akan memulai untuk menjelaskannya pada Bapak dengan gaya bahasa yang saya
miliki.
Pertama, mengenai apa yang telah terjadi. Bapak meminta kami menjelaskan,
mengapa kita ingin bersekolah di STAN dari awal? Yah, mungkin alasan saya tidak
jauh beda dari jawaban teman – teman yang lain. Ingin langsung kerja, disuruh orang
tua, dan juga ada keinginan dari diri sendiri. Saat ini mencari kerja itu
sulit, kata mereka. Dan solusi yang paling tepat adalah masuk ke STAN. Keluarga
kami bukanlah keluarga yang mapan, makanya kami sebisa mungkin menekan
pengeluaran untuk kuliah. Pada awalnya saya ingin kuliah di Telkom jurusan Ilmu
Komunikasi. Menjadi public speaker yang handal adalah cita – cita saya dulu.
Dan saya yakin, dengan kuliah di Telkom, cita – cita saya dapat terwujud. Tapi
takdir berkata lain, saya diterima di perguruan tinggi kedinasan di bawah
naungan Kementrian Keuangan, STAN. Tapi saya tidak menyesal meninggalkan
Telkom, karena masuk STAN pun salah satu cita – cita saya. Saya tidak menyangka
bisa menjadi bagian dari 2% mahasiswa yang terpilih untuk menimba ilmu di STAN.
Suatu kebanggaan bagi saya untuk bisa belajar mengenai keuangan negara bersama
teman – teman yang super di STAN ini.
Kedua, mengenai apa yang sedang terjadi. Mengenai kelebihan dan kekurangan
yang kami miliki. Saya memiliki banyak kekurangan dan beberapa kelebihan. Saya
ingin menuliskan tentang kekurangan saya terlebih dahulu. Saya itu manja,
terlalu cuek, dan juga kurang pintar dalam bidang akademis. Saya pun sering
tidak bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Sering berburuk sangka terhadap
teman – teman saya sendiri. Saya sebenarnya ingin menghilangkan kekurangan saya
ini. Tapi semua ini butuh proses, dan semoga saja saya dapat mengatasinya
dengan baik.
Mengenai kelebihan yang saya miliki, saya mendengar dari teman - teman
bahwa saya memiliki bakat dalam menulis. Dan juga kemampuan bahasa inggris saya
lumayan memadai. Inilah yang sedang saya kembangkan.
Yang ketiga, mengenai apa yang akan terjadi. Saya melihat aspek ini pada
cita – cita kami sebenarnya itu apa. Mungkin hal – hal yang saya utarakan tidak
jauh berbeda dari teman – teman secara umum. Cita – cita yang paling ingin saya
raih adalah membuat orang tua saya bangga memiliki anak seperti saya. Selama
ini saya lebih banyak menuntut daripada memberi. Maka dari itu, saya ingin
berbuat apa saja yang akan membuat senyum di wajah kedua orang tua saya
merekah. Ayah saya sangat menantikan hari wisuda saya 1 tahun ke depan. Beliau
ingin melihat saya duduk dan memakai toga. “30% lagi ya teh,” itulah yang
sering ayah saya katakan kepada saya. Saya ingin membuat 30% lagi kuliah saya
disini memberikan hasil yang membuat kedua orang tua saya bangga. Saya ingin
orang tua saya bisa naik haji.
Saya ingin sukses dalam bidang akademis dan juga kehidupan sosial. Bukan
salah satunya saja. Untuk meraih cita – cita, tentu saja ada beberapa hal yang
harus saya lakukan. Salah satunya adalah belajar. Saya tahu, lebih mudah
berbicara daripada melakukan. Tapi semoga saja saya tetap istiqomah dalam
menjalankan kuliah saya disini.
Ketika saya sudah menjadi PNS, saya akan menjadi PNS yang berintegritas.
Suatu kata yang baru dimengerti saat menginjakkan kaki di STAN. Insya allah
saya akan menjadi PNS yang berintegritas. Saya percaya teman – teman saya yang
lain pun tidak akan menjadi PNS yang nakal.
Yak, mungkin itulah sedikit cerita yang bisa saya ungkapkan ke Bapak.
Sekiranya sekian surat yang bisa saya tuliskan. Apabila ada kata – kata yang
salah, mohon maafkan saya. Terima kasih Bapak sudah membaca surat dari saya.
Wassalammu’alaikum..
Tangerang, 18 September
2012
Amelia Lestarina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar